Sunday, January 5, 2020

Politik Pencitraan & Hoax, Trend Menjelang Pilkada 2020


Hasil gambar untuk pilkada 2020" 
 Sumber: pmjnews


Kontestasi Pilkada tahun 2020 merupakan Pilkada yang akan di gelar serentak se-Indonesia. Berbagai media online menyebukan Pilkada tahun 2020 direncanakan akan dilaksanakan pada tanggal 23 September yang dilikuti sebanyak 270 Daerah dengan rincian 9 Provinsi, 224 Kabupaten dan 37 Kota. Pergantian masa jabatan para pemimpin daerah atau petahana yang kembali mencalonkan diri dalam mempertahankan posisi jabatan sebagai kepala daerah tentu hal ini di pandang tidaklah mudah jika sebelumnya memunculkan beragam spekulasi dan inventasi (politik dan sosial) dari masyarakat terhadap kepemimpinannya. Sebagai petahana, hal tersebut sudah barang tentu bersaing kembali dengan calon pemimpin lainnya untuk memperebutkan sebuah "Tahta Kekuasaan" yang dinilai membawa kemajuan pada daerah. Hal tersebut diyakini akan menimbulkan adanya politik pencitraan hingga serangkaian serangan hoax pada petahana atau calon kandidat, sehingga terindikasi adanya kemunculan hoax trend yang mulai menggaung kembali dalam kontestasi pemilihan kepala daerah pada tahun 2020.
Menelisik kalimat 'Politik Dikejar Waktu' dinilai cocok bagi para calon kandidat Pilkada tahun 2020 yang diusulkan oleh masing-masing-partai pengusung, menariknya seketika dimana akhir-akhir ini sedang gencar-gencarnya melakukan pencitraan secara masif, beragam strategi politik digunakan untuk menggaet dukungan dari masyarakat, sedangkan jadwal pelaksanaan pendaftaran calon candidat akan berlangsung pada bulan Februari 2020 (untuk calon gubernur) dan bulan Maret 2020 (untuk calon bupati dan calon walikota). Hal ini tentunya menjadi kesempatan emas bagi partai politik dan juga calon kandidat Pilkada yang walaupun belum tentu bisa lolos dalam tahapan seleksi Pilkada tahun 2020, namun telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari untuk berpartisipasi serta bersedia menyatakan keikutser-taannya dalam menghadapi kontestasi Pilkada tahun 2020, yang mana dalam pengumuman resmi oleh Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia bagi para kandidat (resmi) memulai pelaksanaan kampaye Pilkada serentak pada tanggal 1 juli 2020 hingga 19 September 2020.
Demi membangun citra politik, para calon kandidat dalam kontentasi Pilkada 2020 seringkali mencuri start kampaye (pencitraan) dalam bentuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan melibatkan masyarakat, misal terjun langsung/ hadir di tengah-tengah perumahan padat penduduk (blusukan) untuk menemukan permasalahan dan mencari solusinya, kemudian keterlibatan di setiap acara atau event kepemudaan atau organisasi masyarakat sebagai sponsor utama, selanjutnya kegiatan-kegitan tersebut di posting dalam sosial media dan media massa sebagai awal political branding oleh para calon kandidat. Hal ini dinilai sebagai model strategi komunikasi politik yang bertujuan untuk mendapat dukungan secara maksimal dari masyarakat. Dengan demikian, pencitraan melalui media massa dan juga media online menjadi lahan strategi dan modal sarana yang paling ampuh dalam berinteraksi dan berkomunikasi untuk meningkatkan popularitas diri dengan melalui dukungankan dari teknologi informasi dan komunikasi di era digital seperti media online dan media massa.
Pasatnya pemanfaataan media massa dan juga media online untuk wadah penyampaian pesan-pesan politik, kemudian pencapaian diri, serta rancangan strategi pembangunan yang digembar-gemborkan oleh para calon kandidat dinilai sangat strategis yang dimana bertujuan untuk memperoleh elektabilitas di tengah-tengah masyarakat. Strategi seperti diatas rupanya sudah jamak dilakukan dalam dunia perpolitikan dan memiliki peluang yang besar dari penggunaan media massa, mengingat penggunaan media massa semakin hari mutlak bertambah dan dapat menimbulkan efek tertentu bagi perilaku pemilih. Menurut penelitian Gayatri (2010) dalam (Andriyani, 2018) mengungkapkan bahwa strategi kampanye dengan menggunakan media massa dan media online terbukti menimbulkan efek tertentu pada masyarakat, seperti perubahan-perubahan opini, persepsi, sikap/ perilaku hingga perubahan sistem sosial di masyarakat.
Generasi millennial dan post-millennial menjadi salah satu diantara sasaran utama para calon kandidat Pilkada 2020 untuk meraih dukungan sebagainya yang mana generasi millennial dan post-millennial terindikasi mendominasi di media online sebagai "Penghuni Internet", sehingga kerapkali generasi ini terjebak dengan berbagai pemberitaan palsu (Hoax) dan beragam ujaran kebenjian di media daring tersebut. Trend pemberitaan palsu (Hoax Trend) sebuah fenomena terjadinya penyebaran berita bohong dikhalayak umum. Hal tersebut dinilai salah satu penyebab karena adanya ketakutan ketika ketinggalan sebuah trend berita, sehingga kerap kali para awak media (journalist) dinilai sebagai salah satu akar yang menyebarluaskan pemberitaan palsu yang berdampak pada beragam spekulasi di kalangan masyarakat khususnya generasi millennial dan post-millennial yang terindikasi.
Adanya peningkatan penyebaran pemberitaan palsu (hoax trend) setiap tahun tentu hal yang menakutkan bagi mayoritas individu dan/atau golongan, karena kemunculan trend hoax akan adanya pihak-pihak yang dirugikan, terlebih trend tersebut muncul dan mewarnai di kanca perpolitikan, dimana dinilai bahwa adanya peningkatan trend hoax secara signifikan di tahun-tahun politik. Dari hasil  penelitian oleh Mastel (2017) sebuah lembaga nirlaba yang bergerak pada bidang teknologi informasi, komunikasi dan penyiaran, bahwa "Hasil Survey Wabah Hoax Nasional 2017" dari 10 jenis hoax yang sering diterima oleh pengguna media online yang telah ditentukan sebelumnya bahwa jenis hoax di Bidang Sosial-Politik dinilai jenis hoax yang sangat tinggi pengaruhnya di media sosial sekitar 91.80%. Kemudian bentuk hoax yang diterima berupa Tulisan 62.10%, gambar 37.50%, dan Video 0.40%. Lebih lanjut, saluran penyebaran berita hoax yang paling tertinngi diterima melalui Media Sosial (Facebook/ Twitter/Instagram) sebesar 92.40%, selanjutnya disusul Aplikasi Chatting (Whatsapp, Line, Telegram) yang mewarnai penyebaran pemberitahan palsu (hoax trend) di media online.
Data di atas menyimpulkan bahwa narasi-narasi politik di saluran media sosial sangat berpengaruh besar terhadap eksitensi para calon kandidiat Pilkada dalam meraih dukungan, dan juga ditambah dengan adanya generasi millennial dan post-millennial sebagai pengguna media sosial tertinggi, sehingga mereka ini menjadi target utama dalam penyebaran pesan politik (penyaluran informasi) hingga akan terjadi kerentanan pada peredaran berita dan informasi palsu di media sosial. Dengan demikian, para generasi millennial dan post-millennial harus dapat mampu memilah pemberitaan ataupun konten yang disuguhkan dalam saluran media sosial yang belum tentu kebenaran, sehingga generasi ini harus lebih selektif serta reaktif apabila adanya berita bohong dan ujaran kebencian.
Di era digital, generasi millennial dan post-millennial diperlukan lebih dari sekedar melihat dan membaca, namun lebih dari itu harus mampu bisa menyikapi pemberitaan palsu (hoax trend) dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai media pembelajaran (political literacy), hadirnya literasi politik di era digital melalui media online seperti  didalamnya terdapat  jurnal, artikel, berita atau mencari informasi melalui televisi, radio, media sosial dan lain-lain sebagai wadah pembelajaran (bahan pertimbangan informasi) yang mana hal tersebut dinilai merupakan salah satu kegiatan literasi politik yang posistif untuk mencari kebenaran dari informasi mengenai karaktersitik kepemimpinan transformatif dari para calon kandidat dalam kontestasi Pilkada 2020 nantinya.
Melalui pemanfaatan teknologi tepat guna dapat meningkatkan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam berpikir yang menggunukan sumber-sumber pegetahuan berbentuk visual dan digital dalam menemukan informasi dan memilah dari sekian banyak yang terindikasi adanya pemberitaan palsu seperti alamat website yang dicurigai/ keganjalan terdapat pada domain dari media sosial (situs website), sehingga kemampuan diri para generasi millennial dan post-millennial dalam literasi politik tersebut akan mampu berjalan sendiri dan kecendrungan dapat memaknai karakteristik dari calon kandidat Pilkada serentak tahun 2020 yang mengutamakan (bersifat) substansial dan berpengaruh bukan sekedar pencitraan semata. Dengan demikian, gerarasi millennial dan post-millennial mampu mengakses dan memahami konten hingga menyebarluaskan pemberitaannya dengan pemahaman literasi politik. Pada akhirnya, generasi millennial dan post-millennial dapat membandingkan antar calon kandidiat untuk periode kepemimpinan kepala daerah tahun 2020-2025.
Daftar Pustaka
Andriyani, T., Zahra, S., & Swasti, D. D. (2018). Gambaran Pola Identifikasi Generasi Milenial Dalam Memilih Tokoh Politik Melalui Media Sosial. Prosiding Konferensi Nasional Peneliti Muda Psikologi Indonesia, 3(1), 1-11.
Mastel. (13 Februari 2017). Hasil Survey Wabah HOAX Nasional 2017. Dikutip melalui laman https://mastel.id/hasil-survey-wabah-hoax-nasional-2017/ (Pada tanggal 28 Agustus 2019)
*Al Fauzi Rahmat: Mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan UMY

Artikel diatas telah di muat di:
https://gentrapriangan.com/politik-pencitraan-dan-hoax-trend-menjelang-pilkada-2020/

Thursday, January 2, 2020

Does the Government Effectively in Optimizing Open Data? Analysis "Jago Data" in Yogyakarta Municipality

My first article journal publication  indexing by Sinta 2.

Does the Government Effectively in Optimizing Open Data? Analysis "Jago Data" in Yogyakarta Municipality


http://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jog/article/view/6751

Rahmat, A.F., Nurmandi, A., Dewi, D. S. K., & Salahuddin, S. (2019). Does The Government Effectively in Optimizing Open Data? Analysis" Jago Data" in Yogyakarta Municipality. Journal of Governance, 4(2),136-155.

Thursday, August 22, 2019

Buku Berjudul LIKA-LIKULIAH: My First Book



Halo, Assalamualaikum Kaula Muda.

Selamat datang di Blog Written in Peace by Al Fauzi Rahmat.

I want to say that long time didn’t write in this blog, yes, exactly today that I have some short-write about my life when I was graduate in Bachelor Degree.

Saya telah melalui perjalanan panjang yang cukup melelahkan dalam menempuh pendididkan S1, namun adakalanya rasa kelelahan itu dapat terbayarkan dengan berbagai aktivitas yang kemudian dapat tercapainya 100 goresan cita dan serpihan mimpi yang telah terukir (red: maksudnya tertulis) sejak beberapa tahun lamanya.
Lebih lanjut, saat ini saya telah berhasil lolos menjadi mahasiswa baru kembali (S2) dengan jurusan yang sama saat berada di S1 dulu, ya Ilmu Pemerintahan (Konsentrasi Pelayanan Publik). Jurusan ini juga bisa disebut MGAA (Master of Government Affairs and Administration). Baru menjadi seorang mahasiswa baru lagi, rasanya belum puas dengan prestasi yang pernah diraih sebelumnya. Oleh karena itu, untuk mengisi waktu yang kososng sebelum memulai perkuliahan yang direncanakan akan dimulai bulan September 2019, Alhamdulillah untuk mengisi kekosongan tersebut, saya telah berhasil menyelesaikan tulisan yang sempat berhenti ditengah jalan, dikarenakan adanya kesibukan seperti penelitian skripsi pada awal tahun kemaren (inf:2019).
Pada tanggal 22 Agustus 2019, saya menerima kabar bahwa naskah yang telah rampung dan dikirimkan ke penerbit yang berlokasi di Jawa Barat Alhamdulillah di respon dengan baik. Buku yang berjudul Lika-Likuliah Tell Short Story Behind Study in Chiang Mai (ISBN: 978-623-7474-40-1) sebagai buku non-fiksi yang berhasil diterbitkan.






 



Mengulas lahirnya buku ini berawal dari goresan cita dan serpihan mimpi dari selembar kertas kusam dan pulpen bertinta hitam yang menemani dalam kesunyian diri, hal itu merupakan awal dari segala mimpi yang perlahan satu demi satu mulai terwujud.
Kembali berbicara sebagai “Penulis Buku” Lika-Likulah ya. Sekitar lebih kurang 1 tahun lamanya hingga sampai disaat saya memberanikan diri untuk mencoba mengirimkan naskah tersebut ke Penerbit. Buku non-Fiksi ini merupakan my first book so I have so excited and I always received that your advance to good writing in the next books. Insyaallah now I write the second’s book doain semoga kelar secepatnya.

Dari buku ini bersinopsi sebagai berikut:

SINOPSI

"Rose of the North Thailand" julukan ini diberikan pada salah satu provinsi tercantik di Thailand. Maha karya Tuhan yang telah menciptakan alam yang indah dan nampaknya beragam seni dan budaya sangat kental di provinsi yang di juluki sebagai mawar di utara Thailand.

Mawar, iya ! kata tersebut rasanya tepat untuk mempresentasikan lika-liku kehidupan saya disana. Terkadang harum semerbak, namun kadang kala duri-durinya pun turut andil dalam menghiasi lika-liku kehidupan disana.

Buku yang berjudul "LIKA-LIKULIAH: Tell Short Story Behind Study in Chiang Mai Thailand" menjadi kisah nyata seorang anak muda bernama Alfar yang berkesempatan untuk mengeyam kuliah di Negeri Gajah Putih. Menariknya, buku ini menceritakan awal mula goresan cita dan serpihan mimpi  hingga hayalan semata yang tercecer tak beraturan, sampai suatu waktu mimpi itu dapat tercapai.

Dibalik perjalanan studi, buku ini juga menceritakan susahnya menemukan makanan halal, dikejar gerombolan anjing Thailand, jarak tempuh (±15km) sholat jum’at, hingga cerita singkat kartu ATM yang rusak. Namun, semua terbayar dengan kisah bahagia lainnya dengan treveling di Thailand bagian utara dan cerita-cerita singkat tentang sambutan masyarakat Thailand yang ramah. 


Buku yang beratnya 200 gr dengan ketebalan 117 halaman ini telah terbit dan hadir pada bulan Agustus 2019 dan dapat diperoleh diberbagai E-Commerce seperti:
GUEPEDIA
TOKOPEDIA
BUKALAPAK
SHOPEE
FACEBOOK
INSTAGRAM


Blog ini sebagai salah satu media penyalur hobi, berbagai tulisan dimana sebagian besarnya merupakan hasil dari pengalaman dan/atau informasi yang pernah saya dapatkan, dilain-sisi saya menyadari ada beberapa tulisan juga yang memang diambil dari sumber blog lain, itu dilakukan karena disaat blog ini dibuat sejak SMP kelas 3 atau tahun 2012. Bisa dibilang curhatan saya lebih banyak melalui blog, iya salah satunya buku yang telah dirilis diatas Lika-Likuliah Tell Short Story Behind Study in Chiang Mai ber-ISBN: 978-623-7474-40-1.
Saya menyadari bahwa kemungkinan besar orang saat ini yang mulai enggan membaca tweet melalui blogspot atauapun wordpress dan sejenisnya. So, thanks for all people, such as my family, friends, and people around me that I don’t know where you are.


Sampai jumpa dilain waktu, Insyaallah secepatnya saya kembali.

Wasalam